Kisah
Ummu Ibrahim Al-Hasyimiyah adalah cerita terkenal, yang dikisahkan
oleh banyak 'ulama', diantaranya Abu Ja'far Ahmad bin Al-Laban
rahimahullah di dalam kitab beliau yang berjudul Tanbih Dzawi
Al-Aqdar 'Ala Masalik Al-Abrar.
Beliau
bertutur, “Telah diriwayatkan bahwa waktu itu di kota Bashrah
terdapat wanita-wanita ahli 'ibadah, salah seorang dari mereka adalah
Ummu ibrahim Al-Hasyimiyyah. Pada saat bersamaan musuh telah menyerbu
perbatasan negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin dianjurkan
untuk menunaikan kewajiban jihad. Oleh karena itu 'Abdul Wahid bin
Zaid Al-bashri berkhutbah untuk memberikan semangat kaum muslimin
dalam berjihad. Ummu Ibrahim termasuk salah seorang yang menghadiri
khutbah tersebut. Dia menyanjung khutbah yang disampaikan oleh Abdul
Wahid bin Zaid Al-Bashri yang di dalamnya terdapat syair pujian
kepada para bidadari penghuni jannah, yang berbunyi,
Mereka
adalah para gadis yang tenang dan penuh dengan canda ria.
Sangat
cantik dan tidak akan hamil.
Diciptakan
dari semua kebaikan.
Berperangai
baik dan tidak akan buruk akhlaqnya.
Allah
menghiasi wajahnya begitu cantik.
Sehinnga
akal manusia tidak bisa membayangkannya.
Pandangan
mata yang indah menggoda.
Permukaan
wajah yang kemilau tertimpa cahaya.
Keringat
yang wangi mengalir disisi wajah.
Gadis
jelita yang memberi rasa bahagia.
Apakah
engkau mengira para peminang bidadari telah mendengar
bahwa
gelas-gelas penuh dengan munuman lizat telah ditata
di
dalam taman yang indah kita menunggu.
Setiap
kali angin bertiup menyebar bau wangi para bidadari.
Mereka
memanggil para peminang dengan cinta yang tulus.
Hati
yang penuh sukacita sampai puas.
Wahai
peminang yang dicinta; engkaulah yang mereka harapkan bukan yang
lain.
Mereka
menunggumu dengan mengenakan cincin yang berhias keindahan.
Para
bidadari bukanlah seperti para wanita dunia
yang
mencinta kemudian pergi tak setia.
Sekali-kal
tidak...
para
pejuang tidak akan meminang para wanita yang mudah lupa.
Tetapi
mereka rindu...
Kepada
bidadari yang terus menerus menebar cinta.
Abu
Ja'far melanjutkan kisahnya,
“Mendengar
khutbah yang disampaikan oleh 'Abdul Wahid Al-Bashri, kaum muslimin
bergumaman saling berbicara antar sesama mereka sehinggga majelis
tersebut menjadi gaduh. Maka Ummu Ibrahim berkata kepada Abdul Wahid,
“Wahai
Abu Ubaid (julukan 'Abdul Wahid Al-Bashri) tidakkah engkau mengetahui
bahwa anakku Ibrahim telah mendapatkan tawaran dari pada pemuka
bashrah untuk melamar putri mereka, akan tetapi aku tidak mau
menerima tawaran mereka. Dan demi Allah, aku sangat tertarik dengan
sifat yang dimiliki oleh gadis yang engkau ceritakan tadi. Sehingga
aku ridha jika gadis itu bersanding dengan putra kesayanganku.”
Mendengar
ucapan Ummu Ibrahim, maka Abdul Wahid mengulang-ulang ucapan yang
memuji kecantikan dan keindahan para bidadari.
Dia
bersyair,
Cahaya
yang berkilau memancar dari wajah mereka
yang
bercampur dengan wewangian yang paling indah.
Sehingga...
Jika
mereka menginjak batu kerikil
Akan
tumbuh bunga tanpa siraman air.
Jika
meludah di air laut
Akan
hilang rasa asin seluruh lautan
Jika
engkau meraih lingkar pinggangnya
bagaikan
cabang raihan yang berdaun hijau.
Kesempatan
untuk bersamanya tinggal sebentar
maharnya
adalah luka tubuh dan kesedihan hati.
Mendengar
ucapan syair dari 'Abdul Wahid, keadaan manjelis semakin gaduh. Ummu
Ibrahim segera bangkit dan berkata kepada Abdul Wahid,
“Demi
Allah wahai Abu Ubaid, aku sangat terpesona dengan sifat gadis itu
dan aku ridha jika dia bersanding dengan anak lelakiku. Maukah engkau
menikahkannya dengan anak lelakiku? Aku akan berikan engkau mahar
sebanyak sepuluh ribu dinar. Anak lelakuku Ibrahim akan keluar
bersamamu hari ini untuk berperang. Semoga Allah memberikan kepadanya
karomah syahid, sehingga dia akan memberi syafa'at kepadaku dan
suamiku kelak dihari kiamat”
Abdul
Wahid menjawab,
“Jika
engkau benar-benar mau melakukannya, maka insya Allah engkau, suami
dan anakmu akan mendapat keberuntungan yang besar.”
Selanjutnya
Ummu Ibrahim memanggil anak lelakinya
“Wahai
Ibrahim, datanglah!”
Mendengar
panggilan dari sang ibu dia segera bangkit dari tengah-tengah
kumpulan manusia dan menjawab,
“Aku
mendengar panggilanmu wahai ibunda”.
Ummu
ibrahim berkata
“Wahai
anakku, relakah engkau menikahi gadis itu dengan mahar dikorbankannya
nyawamu fi sabilillah dan tidak kembali pulang?”.
Ibrahim
menjawab,
“Demi
Allah, aku rela dengan permintaanmu, wahai ibunda”
kemudian
Ummu Ibrahim pun berdo'a
“Ya
Allah, aku bersaksi bahwa aku telah menikahkan anakku Ibrahim dengan
bedadari. Maharnya adalah nyawa anakku yang dikorbankan di jalan-Mu
serta tidak akan kembali melakukan dosa. Maka terimalah persembahan
dariku, wahai Yang Maha Pengasih.”
Lantas
Ummu Ibrahim pergi sebentar dan kembali dengan membawa harta sebanyak
sepuluh ribu dinar dan berkata,
“Wahai
Abu Ubaid, ini adalah mahar untuk gadis (bidadari) itu, yang harus
engkau gunakan untuk memenuhi perlengkapan pasukan Islam.”
Kembali
Ummu ubaid pergi untuk membeli kuda terbaik dan senjata lalu ia
berikan kepada anak laki-laki kesayangannya. Ketika Abdul Wahid bin
Zaid Al-Bashri berangkat berperang, bergabunglah Ibrahim. Saat itu
para 'ulama membaca ayat,
“Sesungguhnya
Allah telah membali dari orang-orang beriman diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 11)
Saat
akan berpisah dengan anak lelakinya, Ummu Ibrahim menyerahkan
selembar kain kafan dan hanuth (ramuan obat yang digunakan untuk
meluuri jenazah orang mati agar tidak rusak, berfungsi untuk
memberikan semangat bagi seseorang dalam menemui kematian-pent)
seraya berpesan,
“Wahai
anakku, jika engkau telah berhadapan dengan musuh maka pakailah kain
kafan dan pergunakanlah hanuth itu. Dan jangan sekali-kali Allah
melihatmu lengah dalam berjihad fi sabilillah.”
Sang
ibu memeluk anaknya dan mencium dahinya, berkata lagi,
“Wahai
anakku, Allah tidak akan mengumpulkan kita kecuali kelak ketika kita
bertemu di hari kiamat.”
Selanjutnya
Abdul Wahid bertutur,
“Pada
saat kami sampai negeri musuh, pasukan Islam telah dipanggil untuk
bertempur. Terlihat Ibrahim berada dibarisan terdepan. Ketika
peperangan berlangsung dia berhasil membunuh banyak sekali musuh.,
sehingga pasukan kafir mengepung dan berhasil membunuhnya pula.”
Abdul Wahid melanjutkan, “Ketika kami akan kembali ke Bashrah aku
berpesan kepada para sahabatku untuk tidak menceritakan kejadian yang
menimpa Ibrahim kepada sang ibu hingga aku bertemu langsung
dengannya. Dan aku akan sampaikan keadaan Ibrahim dengan bahasa yang
baik sehingga dia tidak merasa gelisah dan sedih.”
Ketika
Ummu Ibrahim melihatku, dia bertanya,
“Wahai
Abdul Wahid apakah persembahanku diterima sehingga aku menjadi mulia
ataukah ditolak sehingga terhinalah diriku?”
Aku
menjawab,
“Sesungguhnya
persembahanmu telah diterima, Ibrahim saat ini hidup dan dilimpahi
rizki yang tidak terputus.”
Mendengar
jawabanku, Ummu Ibrahim segera bersujud kepada Allah sebagai tanda
syukur dan berkata,
“Segala
puji bagi Allah yang tidak mengecewakan harapanku dan telah menerima
pengorbananku.”
Besok
harinya datanglah Ummu Ibrahim ke Masjid milik Abdul Wahid dan
memanggilnya,
“Assalamu'alaika,
wahai Abu Ubaid, aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu.”
Abul
Wahid berkata,
“Engkau
selalu datang dengan membawa kabar gembira. Lalu kabar gembira
apalagi yang akan engkau sampaikan?”
Ummu
Ibrahim menjawab,
“Semalam
aku bermimpi, aku lihat anakku Ibrahim berada didalam teman yang amat
indah. Di atas taman itu terdapat kubah yang berwarna hijau, aku
lihat anakku Ibrahim sedang duduk di atas ranjang terbuat dari
mutiara. Diatas kepala anakku diletakkan mahkota dan dia berkata
kepadaku,
“Wahai
ibunda, ini adalah kabar gembira bagimu. Mahar yang engkau bayarkan
telah diterima dan saat ini pesta pernikahan sedang dirayakan.”
Sumber:
Kisah-Kisah
Pahlawan Generasi Pilihan, Oleh Hilmu bin Muhammad bin isma'il.
Penerbit: Wafa Press