Wednesday, December 25, 2013

Dilema Muslim di Hari Natal

Hari natal memang sangat meriah di rayakan oleh sejumlah besar penduduk dunia, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas muslim. Kemeriahan itu meluap sampai-sampai tak saja orang kristen yang bergembira dan merayakan hari kelahiran Yesus anak Allah ini, bahkan orang-orang islam pun turut merayakan, mengucap selamat natal dan bahkan ada pula yang turut mengamankan gereja-gereja baik oknum, aparat keamanan maupun organisasi semacam GP Ansor.

La hawla wala quwwata illa billah, sungguh hari natal merupakan dilema bagi umat islam hari ini, karena terlanjur faham toleransi, harga-menghargai antar agama dan kerukunan agama menancap kuat disanubari umat ini. Tidak mengucapkan selamat natal disangka tidak toleransi, tak turut merayakan takut disebut tak rukun tetangga. Pokoknya banyak alasanlah. Apalagi yang punya jabatan misal camat, bupati gubernur sampai presiden, rasanya kok tidak etis bila tidak mengucapakan selamat natal.


Sahabatku kuam muslimin, tahukah engkau? Padahal islam memiliki ajaran yang tegas dalam masalah ini, dalam tauhid islam mengajarkan bahwa melakukan hal itu baik sekedar memberi selamat natal atau turut merayakan dan bahkan mengamankan jalannya hari natal dilarang dalam islam, haram.

Sejenak kita renungi ayatullah dalam surah Al Kafirun 1-6, hingga pada sebuah firman “Lakum dienukum wa liyadien”

Ibnu Katsir menerangkan asbabun nuzul surah ini bahwa suatu saat datanglah utusan tokoh musyrik Quraisy kepada nabi mengajukan syarat damai antar kedua belah pihak dengan sebuah perjanjian

“Engkau turut menyembah tuhan kami selama 1 tahun, kemudian kami turut menyembah Tuhanmu selama 1 tahun pula”

Saudaraku fiellah, mari kita melihat kesamaan i'tikad ini antara natalan dengan peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah, dan perlu ditekankan, bahwa saat itu rasulullah dalam kondisi tertekan dan terintimidasi. Turunlah ayat ini (surah Al Kafirun)

“Katakanlah (wahai muhammad) “Wahai orang-orang kafir! (1) Aku tak akan menyembah Tuhan yang kamu sembah (2) Dan kamu tak akan menyembah tuhan yang aku sembah (3) sampai pada ayat “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”

Saudaraku, betapa Allah memerintahkan agar kita beriman dengan tauhid yang kokoh, serta tegas dalam bersikap terhadap orang-orang kafir. Orang Quraisy adalah kafir begitupun dengan kristen/nasrani. Segala hal persoalan agama mereka adalah urusan mereka dan persoalan agama kita dalam urusan kita yang jelas kita harus meyakini kekafiran dan kesesatan mereka serta yakin bahwa kelak mereka pasti masuk neraka.

Toleransi yang diajarkan islam adalah dengan cari membiarkan mereka beribadah tanpa campur tangan dalam urusan ini. Allah hanya memerintahkan kita supaya berbaur dengan non muslim hanya dalam urusan keduniawian/ sosial.

Firman Allah:
Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanan:8)


Demikianlah konsep toleransi dalam islam yang jelaskan dengan jelas dan begitulah harusnya kita bersikap. Wallahu A'lam.

Tuesday, December 17, 2013

Jangan Mencaci, Bunuh Saja Kalau Menghina Islam

Haruskah kebencian kita sampai begini rupa? Rasulullah sekalipun sangat benci terhadap Abu jahal dan antek-anteknya tak pernah melakukan begin. Bila memang ada musyrikin atau yahudi yang sangat menyinggung islam, beliau langsung bertindak dengan memberi sabda kepada sahabatnya untuk memenggal kepada penghina islam.

Tegas tanpa menyakiti kehormatan musuh, menghina bukan akhlaq islam, tapi membunuh adalah bentuk ketegasan bahwa islam bukan agama Allah yang dipermainkan. Teringat bagaimana Rasulullah menghukum suku Yahudi bani Qunaiqo' lantaran menghina seorang muslimah, beberapa pedagang Yahudi berkomplot melepas paksa hijab muslimah dengan cara mengikat ujung hijabnya pada kayu. Tak banyak cakap Rasulullah mengepung suku tersebut dan menjatuhkan hukuman pada mereka.

Mari jauhilah kebiasaan menghina, mencaci dan hal buruk lainnya. Saat ini islam butuh tindakan bukan sekedar omongan, Singa akan ditakuti bila taringnya tajam keras dalam mencabik, tapi singa ompong apalah yang ditakutkan oleh musuh?

Saudaraku fillah, semoga hati kita terbuka dan lapang dada sehingga memahami niat baik dalam tulisan ini. Barokallahu fiekum.

Wednesday, December 11, 2013

Ummu Ibrahim, Menikahkan Anaknya Dengan Bidadari

Kisah Ummu Ibrahim Al-Hasyimiyah adalah cerita terkenal, yang dikisahkan oleh banyak 'ulama', diantaranya Abu Ja'far Ahmad bin Al-Laban rahimahullah di dalam kitab beliau yang berjudul Tanbih Dzawi Al-Aqdar 'Ala Masalik Al-Abrar.

Beliau bertutur, “Telah diriwayatkan bahwa waktu itu di kota Bashrah terdapat wanita-wanita ahli 'ibadah, salah seorang dari mereka adalah Ummu ibrahim Al-Hasyimiyyah. Pada saat bersamaan musuh telah menyerbu perbatasan negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin dianjurkan untuk menunaikan kewajiban jihad. Oleh karena itu 'Abdul Wahid bin Zaid Al-bashri berkhutbah untuk memberikan semangat kaum muslimin dalam berjihad. Ummu Ibrahim termasuk salah seorang yang menghadiri khutbah tersebut. Dia menyanjung khutbah yang disampaikan oleh Abdul Wahid bin Zaid Al-Bashri yang di dalamnya terdapat syair pujian kepada para bidadari penghuni jannah, yang berbunyi,

Mereka adalah para gadis yang tenang dan penuh dengan canda ria.
Sangat cantik dan tidak akan hamil.
Diciptakan dari semua kebaikan.
Berperangai baik dan tidak akan buruk akhlaqnya.
Allah menghiasi wajahnya begitu cantik.
Sehinnga akal manusia tidak bisa membayangkannya.
Pandangan mata yang indah menggoda.
Permukaan wajah yang kemilau tertimpa cahaya.
Keringat yang wangi mengalir disisi wajah.
Gadis jelita yang memberi rasa bahagia.
Apakah engkau mengira para peminang bidadari telah mendengar
bahwa gelas-gelas penuh dengan munuman lizat telah ditata
di dalam taman yang indah kita menunggu.
Setiap kali angin bertiup menyebar bau wangi para bidadari.
Mereka memanggil para peminang dengan cinta yang tulus.
Hati yang penuh sukacita sampai puas.
Wahai peminang yang dicinta; engkaulah yang mereka harapkan bukan yang lain.
Mereka menunggumu dengan mengenakan cincin yang berhias keindahan.
Para bidadari bukanlah seperti para wanita dunia
yang mencinta kemudian pergi tak setia.
Sekali-kal tidak...
para pejuang tidak akan meminang para wanita yang mudah lupa.
Tetapi mereka rindu...
Kepada bidadari yang terus menerus menebar cinta.

Abu Ja'far melanjutkan kisahnya,
Mendengar khutbah yang disampaikan oleh 'Abdul Wahid Al-Bashri, kaum muslimin bergumaman saling berbicara antar sesama mereka sehinggga majelis tersebut menjadi gaduh. Maka Ummu Ibrahim berkata kepada Abdul Wahid,
Wahai Abu Ubaid (julukan 'Abdul Wahid Al-Bashri) tidakkah engkau mengetahui bahwa anakku Ibrahim telah mendapatkan tawaran dari pada pemuka bashrah untuk melamar putri mereka, akan tetapi aku tidak mau menerima tawaran mereka. Dan demi Allah, aku sangat tertarik dengan sifat yang dimiliki oleh gadis yang engkau ceritakan tadi. Sehingga aku ridha jika gadis itu bersanding dengan putra kesayanganku.”

Mendengar ucapan Ummu Ibrahim, maka Abdul Wahid mengulang-ulang ucapan yang memuji kecantikan dan keindahan para bidadari.
Dia bersyair,

Cahaya yang berkilau memancar dari wajah mereka
yang bercampur dengan wewangian yang paling indah.
Sehingga...
Jika mereka menginjak batu kerikil
Akan tumbuh bunga tanpa siraman air.
Jika meludah di air laut
Akan hilang rasa asin seluruh lautan
Jika engkau meraih lingkar pinggangnya
bagaikan cabang raihan yang berdaun hijau.
Kesempatan untuk bersamanya tinggal sebentar
maharnya adalah luka tubuh dan kesedihan hati.

Mendengar ucapan syair dari 'Abdul Wahid, keadaan manjelis semakin gaduh. Ummu Ibrahim segera bangkit dan berkata kepada Abdul Wahid,
Demi Allah wahai Abu Ubaid, aku sangat terpesona dengan sifat gadis itu dan aku ridha jika dia bersanding dengan anak lelakiku. Maukah engkau menikahkannya dengan anak lelakiku? Aku akan berikan engkau mahar sebanyak sepuluh ribu dinar. Anak lelakuku Ibrahim akan keluar bersamamu hari ini untuk berperang. Semoga Allah memberikan kepadanya karomah syahid, sehingga dia akan memberi syafa'at kepadaku dan suamiku kelak dihari kiamat”

Abdul Wahid menjawab,
Jika engkau benar-benar mau melakukannya, maka insya Allah engkau, suami dan anakmu akan mendapat keberuntungan yang besar.”

Selanjutnya Ummu Ibrahim memanggil anak lelakinya
Wahai Ibrahim, datanglah!”

Mendengar panggilan dari sang ibu dia segera bangkit dari tengah-tengah kumpulan manusia dan menjawab,
Aku mendengar panggilanmu wahai ibunda”.

Ummu ibrahim berkata
Wahai anakku, relakah engkau menikahi gadis itu dengan mahar dikorbankannya nyawamu fi sabilillah dan tidak kembali pulang?”.

Ibrahim menjawab,
Demi Allah, aku rela dengan permintaanmu, wahai ibunda”

kemudian Ummu Ibrahim pun berdo'a
Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku telah menikahkan anakku Ibrahim dengan bedadari. Maharnya adalah nyawa anakku yang dikorbankan di jalan-Mu serta tidak akan kembali melakukan dosa. Maka terimalah persembahan dariku, wahai Yang Maha Pengasih.

Lantas Ummu Ibrahim pergi sebentar dan kembali dengan membawa harta sebanyak sepuluh ribu dinar dan berkata,
Wahai Abu Ubaid, ini adalah mahar untuk gadis (bidadari) itu, yang harus engkau gunakan untuk memenuhi perlengkapan pasukan Islam.”

Kembali Ummu ubaid pergi untuk membeli kuda terbaik dan senjata lalu ia berikan kepada anak laki-laki kesayangannya. Ketika Abdul Wahid bin Zaid Al-Bashri berangkat berperang, bergabunglah Ibrahim. Saat itu para 'ulama membaca ayat,
“Sesungguhnya Allah telah membali dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 11)

Saat akan berpisah dengan anak lelakinya, Ummu Ibrahim menyerahkan selembar kain kafan dan hanuth (ramuan obat yang digunakan untuk meluuri jenazah orang mati agar tidak rusak, berfungsi untuk memberikan semangat bagi seseorang dalam menemui kematian-pent) seraya berpesan,
Wahai anakku, jika engkau telah berhadapan dengan musuh maka pakailah kain kafan dan pergunakanlah hanuth itu. Dan jangan sekali-kali Allah melihatmu lengah dalam berjihad fi sabilillah.”

Sang ibu memeluk anaknya dan mencium dahinya, berkata lagi,
Wahai anakku, Allah tidak akan mengumpulkan kita kecuali kelak ketika kita bertemu di hari kiamat.”

Selanjutnya Abdul Wahid bertutur,
“Pada saat kami sampai negeri musuh, pasukan Islam telah dipanggil untuk bertempur. Terlihat Ibrahim berada dibarisan terdepan. Ketika peperangan berlangsung dia berhasil membunuh banyak sekali musuh., sehingga pasukan kafir mengepung dan berhasil membunuhnya pula.” Abdul Wahid melanjutkan, “Ketika kami akan kembali ke Bashrah aku berpesan kepada para sahabatku untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpa Ibrahim kepada sang ibu hingga aku bertemu langsung dengannya. Dan aku akan sampaikan keadaan Ibrahim dengan bahasa yang baik sehingga dia tidak merasa gelisah dan sedih.”

Ketika Ummu Ibrahim melihatku, dia bertanya,
Wahai Abdul Wahid apakah persembahanku diterima sehingga aku menjadi mulia ataukah ditolak sehingga terhinalah diriku?”

Aku menjawab,
Sesungguhnya persembahanmu telah diterima, Ibrahim saat ini hidup dan dilimpahi rizki yang tidak terputus.”

Mendengar jawabanku, Ummu Ibrahim segera bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur dan berkata,
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan harapanku dan telah menerima pengorbananku.”

Besok harinya datanglah Ummu Ibrahim ke Masjid milik Abdul Wahid dan memanggilnya,
Assalamu'alaika, wahai Abu Ubaid, aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu.”

Abul Wahid berkata,
Engkau selalu datang dengan membawa kabar gembira. Lalu kabar gembira apalagi yang akan engkau sampaikan?”

Ummu Ibrahim menjawab,
Semalam aku bermimpi, aku lihat anakku Ibrahim berada didalam teman yang amat indah. Di atas taman itu terdapat kubah yang berwarna hijau, aku lihat anakku Ibrahim sedang duduk di atas ranjang terbuat dari mutiara. Diatas kepala anakku diletakkan mahkota dan dia berkata kepadaku,
Wahai ibunda, ini adalah kabar gembira bagimu. Mahar yang engkau bayarkan telah diterima dan saat ini pesta pernikahan sedang dirayakan.”

Sumber:

Kisah-Kisah Pahlawan Generasi Pilihan, Oleh Hilmu bin Muhammad bin isma'il. Penerbit: Wafa Press

Manuskrip Lirik Nasyid

Hey, ane punya sebuah buku tulis milik teman karib, namanya Muhammad Asy-Syuja'i yang didalemnya termaktub lirik nasyid. Tulisannya yang khas bikin ane ga bakal lupa dengan sahabat ane ini.

Magnet Dunia

Dunia ini memang begitu indahnya, tak perlu disangkal bahwa seluruhnya telah menjadi hamba yang takluk bertekuk sujud padanya (kecuali yang di rahmati Allah).

Dunia ibarat magnet yang terus menerus menarik manusia agar lalai akan amal shalih, dunia terus menguji siapa hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertakwa.

Duhai, aku yang menulis ini pun sungguh tak tau malu betapa dirikupun salah seorang yang menjadi hamba dunia. Ya Allah, kami hamba-Mu memohon bimbing dan tuntunlah kebutaan mata kami dalam melihat jalan kebenaran, sinari hati kami agar menggerakkan langkah ke jalan lurus-Mu. Menjauhi persimpangan-persimpangan terkutuk yang membuat kami terperdaya oleh bisikan syaithon.

Rabbi tawwabur rahim.

Tuesday, December 10, 2013

Kisah Sang Dosen dan 8 PSK

Berikut adalah kisah yang beberapa kali membuat saya tertegun, dan memunji kekuasaan Allah.

Kisah ini saya ambil dari blog http://moeflich.wordpress.com. Semoga bermanfaat

Seorang Dosen UIN SGD Bandung, berusia 40 tahunan, masuk ke lokasi prostitusi di daerah Bekasi dan mem-booking 8 PSK sekaligus, lalu diboyong ke satu kamar. Sekuriti berbadan besar oknum TNI menguntitnya. Menyewa 8 orang sekaligus tentu tidak wajar dan mencurigakan.

“Dia punya kekuatan seks seperti apa?” Pikirnya. 

Tahu ada yang menguntit, sang dosen merasa terganggu, terjadilah adu mulut antar keduanya.

Sang dosen merasa tidak ada yang salah dan memiliki alasan kuat. Karena toh sudah di-booking adalah hak dia untuk melakukan apa saja dengan 8 perempuan itu dalam kamar. Sang dosen bertanya,

Sebagai apa kamu disini?”

Dia menjawab:

Saya keamanan Pak!”

Mendengar jawaban itu, sontak sang dosen marah:

Keamanan apanya ..?? Pekerjaan kamu disini bukan mengamankan tapi membuat mereka tersiksa dan menderita. Kamu menjerumuskan dan mencelakakan mereka semua di dunia dan di akhirat. Keamanan apanya?”

Sang centeng kaget oleh jawaban yang baru didengarnya itu dan tak bisa menjawab. Sekuriti itu pun disuruh pergi, dan bila tetap menganggu, ia ditantang duel:

Ayo kita satu lawan satu, mau dimana?”

Tapi si oknum ini tidak berani apalagi saat diancam akan dilaporkan ke atasannya jadi centeng “neraka” seperti itu. Ia pun takut, segera pergi dan minta maaf. Di dalam kamar, ke 8 PSK itu merasakan lain. Ada hal aneh yang akan dilakukan tamunya ini mem-booking mereka banyakan.

Di dalam kamar, sang dosen meminta mereka semua duduk di atas kasur dan menyuruh seprai dari dua kasur dicabut:

Tolong cabut itu seprai dan tutup badan kalian semua dengan kain itu. Saya tidak mau melihatnya.”

8 PSK itu kemudian dinasehati panjang lebar tentang kelakuan buruknya, tentang uang haramnya, akibat kejiwaannya pada anak, durhakanya pada orang tua, alasan dustanya soal kebutuhan ekonomi, tentang bahaya penyakit kelamin dll.

“Bayangkan kalau anak perempuanmu seperti kamu, mau nggak? Kalau anak-anakmu tahu kelakuanmu seperti ini, mau nggak? Kalau ibumu tahu, mau nggak? Bayangkan perasaan mereka, betapa malu dan sakit hatinya. Inikah balasan pada ibumu yang sudah susah payah melahirkan, membesarkan dan mendidikmu? Apakah dulu ibumu membesarkanmu dengan penuh pengorbanan dan mendidikmu siang malam dengan sangat lelah dan penuh penderitaan, lalu menyekolahkanmu untuk jadi sampah seperti ini? Saya benar-benar heran, betapa jahatnya kamu semua pada ibumu. Kamu sangat tega mengkhianati mereka, kamu mempersetankan pengorbanan mereka. Kamu tahu nggak, saat kamu sedang melakukan pekerjaan kotor ini dan dapat uang haram, ibumu sebenarnya sedang menjerit menangis di rumah, karena hubungan batin anak dengan ibu itu kuat. Lalu agama kamu dimana? Kamu sadar enggak, sekarang ini api neraka sedang menunggu kamu semua!!”

Sekitar 2 jam dia bicara, di atas itu intinya saja. Ledakan tangisan 8 PSK itu muncrat semua. Mereka menjerit menangis, semua menyadari dan menyesali, tobat seketika, janji akan keluar semuanya. Mereka merasakan, baru ada orang yang kekuatan bicaranya seperti itu, bagai gledek halilintar yang mengoyak-ngoyak batin dan menghancurkan hati mereka semua menjadi luluh tidak berdaya. Setelah penyadaran, sang dosen meminta nomor hp mereka semua.

Beberapa hari kemudian, sang dosen, datang lagi mengecek. Benar, 8 nama itu sudah tidak ada di daftar, sudah keluar. Beberapa hari kemudian, sang dosen mengunjungi ke 8 orang itu ke kampungnya masing-masing, mengontrol dan membina, dan komunikasi terus berjalan setelah beberapa minggu dan bulan. 8 perempuan muda yang wajah-wajahnya aduhai itu, kini ada yang buka warung, buka kios, kerja di pabrik dll. Pada salah satu orang yang jualan gorengan, sang dosen ustadz itu berkata:

Naah … begitu doong… ini yang halal dan barokah. Rizki halal tidak susah asalkan dicari.”

Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat amat telah keluar dari jerat pekerjaaan kotornya.
Dari ke 8 PSK itu, 6 orang bersuami dan direstui oleh suaminya jadi PSK (asalnya daerahnya Subang, Indramayu, Sukabumi). Yang suaminya menerima dan sadar, suaminya juga dibina. Yang suaminya menolak dan marah karena kehilangan income dari istrinya yang cukup besar, sang dosen memberikan instruksi:

“Kamu harus bercerai dengan suamimu, wajib, karena ia telah menjerumuskan dan merusakmu. Suami macam apa seperti itu, sekarang pun ia tidak terima kamu telah sadar. Sekarang cari suami yang baik, masih banyak. Insya Allah saya akan bantu.”

Yang suaminya tidak terima, semuanya diceraikan. Satu orang yang dari Indramayu, bukan hanya tidak terima malah menteror mantan istrinya dan keluarganya.

Ketika sang dosen dilapori, tidak menunggu, ia langsung berangkat mencarinya sendiri rumah orang itu di Indramayu. Laki-laki itu kembali ke rumah orang tuanya. Sang dosen masuk dan menceramahi laki-laki itu. Bukannya berterima kasih dan bersyukur istrinya telah sadar dan kembali ke jalan yang benar, laki-laki itu malah tidak terima dan marah-marah. Ia bersungut-sungut menuduh laki-laki yang tak dikenalnya itu mengganggu kesenangannyalah, merusak rumah tangga oranglah, sok sucilah, dll. Sang dosen membantah:

Siapa yang merusak? Justru kamu yang merusak istri kamu dan kamu memerasnya. Suami macam apa kamu ini?”

Karena nasehat tidak akan masuk pada orang seperti ini. Akhirnya sang dosen mengambil jalan akhir.

Sekarang gini aja, kamu ambil golok bawa keluar, ayo kita duel diluar tapi dengan catatan sampai mati dan harus disaksikan masyarakat, RT, RW dan Polisi. Siapa yang benar diantara kita.”

Laki-laki itu hanya diam, sang dosen kesal, ia masuk ke dapur dan meminta golok pada keluarganya. Golok itu diberikan dan dipaksakannya agar laki-laki itu memegangnya dan dipersilahkan untuk menebas bagian mana saja dari tubuh sang sang dosen yang dia mau. Karena dia masih diam, sang dosen menggusur orang itu keluar rumah.

Karena suasana ribut, tetangga pada keluar, nonton. Sekalian sang ustadz berteriak-teriak disitu menjelaskan betapa bodoh dan dungunya orang ini, istrinya disadarkan malah tidak terima berarti dia ini hakikatnya setan. Tetangga yang sudah menaruh curiga pada pekerjaan istri laki-laki itu membenarkan ucapan sang dosen, mereka terus menonton.

Sampai ujungnya, laki-laki itu sadar, menangis, menyesali dan berjanji tidak akan mengganggu mantan istrinya lagi. Orang tuanya pun menyesalkan kebodohan anaknya itu.

Awas, mengganggu lagi mantan istrimu, dengan saya urusannya.”

Sungguh sebuah kisah yang menggerakkan hati nurani kita seorang muslim, kita memilki kewajiban mengingatkan saudara kita yang terjerumus dalam api maksiat, tak semua orang menginginkan hidup dalam api ini, adakalanya karena tertuntut oleh keadaan sebagaimana yang terjadi dalam sang kisah.


Kepada siapapun, hikmah dari kisah ini sangat berarti. Billahi tawfiq wal hidayah.

Terhadap Sesama Muslim

Sering kita jumpai, seorang yang faham ilmu namun ketika menjumpai saudaranya yang khilaf, ia begitu garang dan berusaha menjatuhkan saudaranya. Kita tak perlu sekeras itu akhi, mereka bukan untuk disesatkan tapi mari kita coba mengiring ke pintu taubat.

Kita belajar begaimana nabi bersikap terhadap seorang a'rab (badui; orang pedalaman) yang masuk ke Masjid lantas kencing didalamnya, saat itu para sahabat gusar dan memohon beliau agar mengijinkan untuk mengusir badui tersebut. Sungguh agung akhlaq nabi, beliau mencegah dan membiarkan si badui menyelesaikan kencingnya supaya najis tak kocar-kacir dimana-mana. Kemudian beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyiram bekas tempat badui itu kencing.

Wallahi, kapan bersatunya kaum muslimin bila umat ini saling berseteru tiada ujung pangkalnya?
Terhadap saudara yang belum berilmu kita mengajari dan terhadap saudara yang berilmu tapi menyeleweng kita mengingatkan. Ajari dengan kesabaran dan Ingatkan dengan kasih sayang.

Dan itu semua bukan mudah sebagaimana diucapkan, kita berusaha dan berdo'a memohon bimbingan Allah.

Friday, December 06, 2013

Pesta pora

Duhai sang malam, sepi begini rupa.
Hanya sahutan katak dan jangkrik ramai tanpa rupa.
Biarlah pikiranku tenggelam dalam dongeng ini.
Sorot mata mengkaji barisan cerita.

Mengalun. Eh, lagi-lagi asmara.
Bikin mabuk jadi ngantuk; tidurlah.

Suara, lagi-lagi berkecamuk tak habis pikir
Sudah diam sampai disini.

+Alakulihal Laismanly +Ismi Hammam

Wednesday, December 04, 2013

Tugas Polisi #Eh...

Seorang siswa SD sudah cukup dewasa memahami kenyataan. Dan dia tak malu-malu untuk jujur akan tragedi ironis begini.


Monday, December 02, 2013

#Jangan ngebut-ngebut!


Kondomisasi, Aduhai sekali.

Tanggal 1 Desember ada peristiwa yang bikin geger sejagat nusantara. Bumi pertiwi ini digoncang dengan sebuah event nasional yang idenya dari Menteri Kesehatan Dr. Nafsiah Mboi. Apa sih eventnya?

Kondomisasi, yah sudah tentu acara ini jadi event yang menggelegar, pasalnya Indonesia negeri yang diduduki mayoritas umat islam dan kita tau dalam islam zina dosa besar sekali. Lho emang apa kaitannya kondom sama zina? Orang pinter bisa mikir.


Kata sang menteri sosialisasi kondom ini guna mencegah makin tersebarnya penyakit HIV/ AIDS, nantinya kondom akan dibagi-bagi kepada kelompok yang paling rentan terserang HIV (semacam lokalisasi). Orang doyan ngeseks mungkin bakal sujud sukur karena dapet kondom gratis, tanpa malu-malu nyerobot sebanyak-banyaknya dihari ini. Bocah-bocah remaja barang kali gak perlu malu-malu ngambil benda yang sebelumnya dianggap kramat ini, toh negara sudah bagi-bagi gratis plus dilindungi undang-undang.


Hey, mau jadi negara apa kita ini? ane pribadi ga bisa memaafkan kebijakan menteri mesum ini. Bagi-bagi kondom gratis berarti mengembang-biakkan zina secara masal, tak peduli tua bangka maupun muda-mudi.



Bagi-bagi kondom ke Supir, foto: Hidayatullah
 Aduhai sekali, kondom dibagi-bagi gratis dijalanan.
Gambar diambil seorang di sebuah puskesmas Malang
Adahai sekali, kondom gratis tersedia di puskesmas.

Selama ini HIV/AIDS mayoritas menyerang pelaku siks diluar nikah bukan sepasang suami istri, itulah sebabnya berkali-kali gue bilang kondomisasi yang aduhai itu melegalkan dan mengembang-biakkan zina (sehat).


Tak perlu kaget misalkan 10 taun kedepan tak ada jumlah siswa-siswi yang hamil, bukan karena ga ada yang doyan ngeseks, tapi mereka udah pada pinter kalo hubungan badan kudu pake kondom, bu menteri yang ngajari.

+Alakulihal Laismanly