Saya
suka dan hobi menulis, hobi itu semakin seru jika saya bertemu orang
yang memiliki hobi/bakat yang sama. Nah sobat, tulisan kisah sahabat
nabi ini adalah salah satu tulisan santri saya sewaktu menjadi guru
(wiyata bakti 1 tahun mengajar di pesantren) dia punya sifat aneh dan
juga punya bakat menulis. Silahkan disimak...
Oleh:
Abdullah Nauval Shalahuddin*
Zubair,
dia adalah anak laki-laki yang berperawakan kurus pendek, umurnya
kira-kira 12 tahun atau lebih sedikit. Ia tinggal bersama ibu dan
saudara laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun lalu setelah
sepeninggalan ayahnya, zubair semakin bersemangat untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Ibunya tidak tahu apa yang dilakukan anak
sulungnya itu pada waktu keluar rumah. Diam-diam zubair sudah
memiliki jabatan Jendral cilik intifadha penyerangan bagian utara.
Senjata yang dipakai hanya bom botol, ketapel atau krikil atau
batu.walau berbadan pendek ia sangat berani, karena itu ia dipilih
sebagai jendral cilik.
Zubair
di sebut juga dengan pahlawan berani mati, disebut dengan sebutan
tersebut ia sering menyelamatkan temannya yang di kejar oleh tantara
yahudi. Penyerangan bagian utara sudah sangat jauh dibandingkan
penyerangan bagian selatan. Itu dikarenakan tak-tik jitu yang
diberitahukan jendral cilik Zubair.
Pada
di sebuah pertempuran antara penyerangan bagian tengah, disana tempat
orang dewasa menyerang, zubair langsung menuruh teman-temannya untuk
menolong penyerangan bagian tengah. Mereka semua bertarung dengan
tangguh. Beberapa saat kemudian dari kalangan yahudi ada yang
terkapar terkena lemparan batu di bagian kepala, pertempuran
berlangsung seru hingga yahudi pun lari hingga jauh karena takut.
Intifadha bersorak gembira atas kemenangan mereka yang penuh barakah.
Pada
pertempuran di markaz tempur antara yahudi dan intifadha. Pertempuran
sangat sengit ini dimulai dengan lemparan dari intifadha hingga
brigade Al-Quds pada siang hari. Pertempuran semakin sengit, hingga
ada suatu letusan senjata yang amat keras mengarah ke garis serang
penyerangan bagian utara, seketika itu debu mulai menutupi pandangan.
Debu
lambat-laun menghilang,dilihatlah zubair yang terkapar tak bernyawa.
Kemudian jenazah zubair diantar ke rumahnya, ibu dan adiknya
menyambut dengan suka dan duka, teman-temannya juga seraya bertanya,
“siapa pahlawan penggantimu?”
27-november-2011
adalah seorang santri Kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al Muttaqin