Zaman ke zaman, umat manusia makin
gila-gilaan. Jika beberapa tahun lalu kita mengenal generasi gila itu
sering dialamatkan kepada remaja tapi hari ini generasi edan juga
nyasar ke anak-anak.
Ketika kita melihat anak-anak sudah
jadi orang konyol dan benyol jangan semata-mata menyalahkan akibat
erupsi budaya barat, tanya kenapa? Gak taulah, tapi yang jelas
hancurnya anak-anak itu karena pergaulannya yang udah super ngawur,
nggak ada sekat pembatasan oleh orang tua dalam pergaulan anak anak
polos ini.
Sebagai contoh ya, di desa saya
(lingkungan transmigran) lagi marak-maraknya game online (sebuah
trend yang juga marak di penjuru nusantara) ketika jam 2 siang saya
ke warnet, miris warnet itu sudah hampir penuh lalu saya amati hampir
tak ada satu layar pun yang hidup kecuali game PointBlank tengah
berlangsung. Ya Allah... rupanya kayak gini generasi muda islam yang
bakal memimpin masa depan.
Belum selesai kekagetan saya, ada hal
lain yang bikin lebih miris, sebagian besar para gamernya ternyata
anak-anak SD, lho padahal jam 2 adalah jam dimana pembelajaran agama
tengah dimulai?
Itu dulu ketika saya pulang dari
pesantren di Jawa, sekarang saya mulai mengerti, jika anak-anak SD
(yang cowok lho ya) lebih suka main game dari pada ngaji. Lalu
bagaimana dengan tempat-tempat belajar iqro' dan Al Qur'an?
Tempat-tempat itu sih masih aja rame, cuma santrinya mayoritas cewek.
Masya Allah...
NB: Harusnya orang tua mendidik dan
menjaga anak lebih intens, serta menjamin akhlaq sebagaimana kita
menjamin kebutuhan pangan mereka.
No comments:
Post a Comment