Wednesday, December 25, 2013

Dilema Muslim di Hari Natal

Hari natal memang sangat meriah di rayakan oleh sejumlah besar penduduk dunia, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas muslim. Kemeriahan itu meluap sampai-sampai tak saja orang kristen yang bergembira dan merayakan hari kelahiran Yesus anak Allah ini, bahkan orang-orang islam pun turut merayakan, mengucap selamat natal dan bahkan ada pula yang turut mengamankan gereja-gereja baik oknum, aparat keamanan maupun organisasi semacam GP Ansor.

La hawla wala quwwata illa billah, sungguh hari natal merupakan dilema bagi umat islam hari ini, karena terlanjur faham toleransi, harga-menghargai antar agama dan kerukunan agama menancap kuat disanubari umat ini. Tidak mengucapkan selamat natal disangka tidak toleransi, tak turut merayakan takut disebut tak rukun tetangga. Pokoknya banyak alasanlah. Apalagi yang punya jabatan misal camat, bupati gubernur sampai presiden, rasanya kok tidak etis bila tidak mengucapakan selamat natal.


Sahabatku kuam muslimin, tahukah engkau? Padahal islam memiliki ajaran yang tegas dalam masalah ini, dalam tauhid islam mengajarkan bahwa melakukan hal itu baik sekedar memberi selamat natal atau turut merayakan dan bahkan mengamankan jalannya hari natal dilarang dalam islam, haram.

Sejenak kita renungi ayatullah dalam surah Al Kafirun 1-6, hingga pada sebuah firman “Lakum dienukum wa liyadien”

Ibnu Katsir menerangkan asbabun nuzul surah ini bahwa suatu saat datanglah utusan tokoh musyrik Quraisy kepada nabi mengajukan syarat damai antar kedua belah pihak dengan sebuah perjanjian

“Engkau turut menyembah tuhan kami selama 1 tahun, kemudian kami turut menyembah Tuhanmu selama 1 tahun pula”

Saudaraku fiellah, mari kita melihat kesamaan i'tikad ini antara natalan dengan peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah, dan perlu ditekankan, bahwa saat itu rasulullah dalam kondisi tertekan dan terintimidasi. Turunlah ayat ini (surah Al Kafirun)

“Katakanlah (wahai muhammad) “Wahai orang-orang kafir! (1) Aku tak akan menyembah Tuhan yang kamu sembah (2) Dan kamu tak akan menyembah tuhan yang aku sembah (3) sampai pada ayat “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”

Saudaraku, betapa Allah memerintahkan agar kita beriman dengan tauhid yang kokoh, serta tegas dalam bersikap terhadap orang-orang kafir. Orang Quraisy adalah kafir begitupun dengan kristen/nasrani. Segala hal persoalan agama mereka adalah urusan mereka dan persoalan agama kita dalam urusan kita yang jelas kita harus meyakini kekafiran dan kesesatan mereka serta yakin bahwa kelak mereka pasti masuk neraka.

Toleransi yang diajarkan islam adalah dengan cari membiarkan mereka beribadah tanpa campur tangan dalam urusan ini. Allah hanya memerintahkan kita supaya berbaur dengan non muslim hanya dalam urusan keduniawian/ sosial.

Firman Allah:
Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanan:8)


Demikianlah konsep toleransi dalam islam yang jelaskan dengan jelas dan begitulah harusnya kita bersikap. Wallahu A'lam.

No comments:

Post a Comment