Hari natal memang sangat meriah di
rayakan oleh sejumlah besar penduduk dunia, tak terkecuali di
Indonesia yang mayoritas muslim. Kemeriahan itu meluap sampai-sampai
tak saja orang kristen yang bergembira dan merayakan hari kelahiran
Yesus anak Allah ini, bahkan orang-orang islam pun turut merayakan,
mengucap selamat natal dan bahkan ada pula yang turut mengamankan
gereja-gereja baik oknum, aparat keamanan maupun organisasi semacam
GP Ansor.
La hawla wala quwwata illa billah,
sungguh hari natal merupakan dilema bagi umat islam hari ini, karena
terlanjur faham toleransi, harga-menghargai antar agama dan kerukunan
agama menancap kuat disanubari umat ini. Tidak mengucapkan selamat
natal disangka tidak toleransi, tak turut merayakan takut disebut tak
rukun tetangga. Pokoknya banyak alasanlah. Apalagi yang punya jabatan
misal camat, bupati gubernur sampai presiden, rasanya kok tidak etis
bila tidak mengucapakan selamat natal.
Sahabatku kuam muslimin, tahukah
engkau? Padahal islam memiliki ajaran yang tegas dalam masalah ini,
dalam tauhid islam mengajarkan bahwa melakukan hal itu baik sekedar
memberi selamat natal atau turut merayakan dan bahkan mengamankan
jalannya hari natal dilarang dalam islam, haram.
Sejenak kita renungi ayatullah dalam
surah Al Kafirun 1-6, hingga pada sebuah firman “Lakum dienukum wa
liyadien”
Ibnu Katsir menerangkan asbabun nuzul
surah ini bahwa suatu saat datanglah utusan tokoh musyrik Quraisy
kepada nabi mengajukan syarat damai antar kedua belah pihak dengan
sebuah perjanjian
“Engkau turut menyembah tuhan kami
selama 1 tahun, kemudian kami turut menyembah Tuhanmu selama 1 tahun
pula”
Saudaraku fiellah, mari kita melihat
kesamaan i'tikad ini antara natalan dengan peristiwa yang terjadi
pada zaman Rasulullah, dan perlu ditekankan, bahwa saat itu
rasulullah dalam kondisi tertekan dan terintimidasi. Turunlah ayat
ini (surah Al Kafirun)
“Katakanlah (wahai muhammad) “Wahai
orang-orang kafir! (1) Aku tak akan menyembah Tuhan yang kamu sembah
(2) Dan kamu tak akan menyembah tuhan yang aku sembah (3) sampai
pada ayat “Bagimu agamamu dan
bagiku agamaku.”
Saudaraku,
betapa Allah memerintahkan agar kita beriman dengan tauhid yang
kokoh, serta tegas dalam bersikap terhadap orang-orang kafir. Orang
Quraisy adalah kafir begitupun dengan kristen/nasrani. Segala hal
persoalan agama mereka adalah urusan mereka dan persoalan agama kita
dalam urusan kita yang jelas kita harus meyakini kekafiran dan
kesesatan mereka serta yakin bahwa kelak mereka pasti masuk neraka.
Toleransi
yang diajarkan islam adalah dengan cari membiarkan mereka beribadah
tanpa campur tangan dalam urusan ini. Allah hanya memerintahkan kita
supaya berbaur dengan non muslim hanya dalam urusan keduniawian/
sosial.
Firman
Allah:
Allah
tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada
orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak
mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah
mengasihi orang-orang yang berlaku adil. (QS
Al Mumtahanan:8)
Demikianlah
konsep toleransi dalam islam yang jelaskan dengan jelas dan begitulah
harusnya kita bersikap. Wallahu A'lam.
No comments:
Post a Comment