Wednesday, December 11, 2013

Ummu Ibrahim, Menikahkan Anaknya Dengan Bidadari

Kisah Ummu Ibrahim Al-Hasyimiyah adalah cerita terkenal, yang dikisahkan oleh banyak 'ulama', diantaranya Abu Ja'far Ahmad bin Al-Laban rahimahullah di dalam kitab beliau yang berjudul Tanbih Dzawi Al-Aqdar 'Ala Masalik Al-Abrar.

Beliau bertutur, “Telah diriwayatkan bahwa waktu itu di kota Bashrah terdapat wanita-wanita ahli 'ibadah, salah seorang dari mereka adalah Ummu ibrahim Al-Hasyimiyyah. Pada saat bersamaan musuh telah menyerbu perbatasan negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin dianjurkan untuk menunaikan kewajiban jihad. Oleh karena itu 'Abdul Wahid bin Zaid Al-bashri berkhutbah untuk memberikan semangat kaum muslimin dalam berjihad. Ummu Ibrahim termasuk salah seorang yang menghadiri khutbah tersebut. Dia menyanjung khutbah yang disampaikan oleh Abdul Wahid bin Zaid Al-Bashri yang di dalamnya terdapat syair pujian kepada para bidadari penghuni jannah, yang berbunyi,

Mereka adalah para gadis yang tenang dan penuh dengan canda ria.
Sangat cantik dan tidak akan hamil.
Diciptakan dari semua kebaikan.
Berperangai baik dan tidak akan buruk akhlaqnya.
Allah menghiasi wajahnya begitu cantik.
Sehinnga akal manusia tidak bisa membayangkannya.
Pandangan mata yang indah menggoda.
Permukaan wajah yang kemilau tertimpa cahaya.
Keringat yang wangi mengalir disisi wajah.
Gadis jelita yang memberi rasa bahagia.
Apakah engkau mengira para peminang bidadari telah mendengar
bahwa gelas-gelas penuh dengan munuman lizat telah ditata
di dalam taman yang indah kita menunggu.
Setiap kali angin bertiup menyebar bau wangi para bidadari.
Mereka memanggil para peminang dengan cinta yang tulus.
Hati yang penuh sukacita sampai puas.
Wahai peminang yang dicinta; engkaulah yang mereka harapkan bukan yang lain.
Mereka menunggumu dengan mengenakan cincin yang berhias keindahan.
Para bidadari bukanlah seperti para wanita dunia
yang mencinta kemudian pergi tak setia.
Sekali-kal tidak...
para pejuang tidak akan meminang para wanita yang mudah lupa.
Tetapi mereka rindu...
Kepada bidadari yang terus menerus menebar cinta.

Abu Ja'far melanjutkan kisahnya,
Mendengar khutbah yang disampaikan oleh 'Abdul Wahid Al-Bashri, kaum muslimin bergumaman saling berbicara antar sesama mereka sehinggga majelis tersebut menjadi gaduh. Maka Ummu Ibrahim berkata kepada Abdul Wahid,
Wahai Abu Ubaid (julukan 'Abdul Wahid Al-Bashri) tidakkah engkau mengetahui bahwa anakku Ibrahim telah mendapatkan tawaran dari pada pemuka bashrah untuk melamar putri mereka, akan tetapi aku tidak mau menerima tawaran mereka. Dan demi Allah, aku sangat tertarik dengan sifat yang dimiliki oleh gadis yang engkau ceritakan tadi. Sehingga aku ridha jika gadis itu bersanding dengan putra kesayanganku.”

Mendengar ucapan Ummu Ibrahim, maka Abdul Wahid mengulang-ulang ucapan yang memuji kecantikan dan keindahan para bidadari.
Dia bersyair,

Cahaya yang berkilau memancar dari wajah mereka
yang bercampur dengan wewangian yang paling indah.
Sehingga...
Jika mereka menginjak batu kerikil
Akan tumbuh bunga tanpa siraman air.
Jika meludah di air laut
Akan hilang rasa asin seluruh lautan
Jika engkau meraih lingkar pinggangnya
bagaikan cabang raihan yang berdaun hijau.
Kesempatan untuk bersamanya tinggal sebentar
maharnya adalah luka tubuh dan kesedihan hati.

Mendengar ucapan syair dari 'Abdul Wahid, keadaan manjelis semakin gaduh. Ummu Ibrahim segera bangkit dan berkata kepada Abdul Wahid,
Demi Allah wahai Abu Ubaid, aku sangat terpesona dengan sifat gadis itu dan aku ridha jika dia bersanding dengan anak lelakiku. Maukah engkau menikahkannya dengan anak lelakiku? Aku akan berikan engkau mahar sebanyak sepuluh ribu dinar. Anak lelakuku Ibrahim akan keluar bersamamu hari ini untuk berperang. Semoga Allah memberikan kepadanya karomah syahid, sehingga dia akan memberi syafa'at kepadaku dan suamiku kelak dihari kiamat”

Abdul Wahid menjawab,
Jika engkau benar-benar mau melakukannya, maka insya Allah engkau, suami dan anakmu akan mendapat keberuntungan yang besar.”

Selanjutnya Ummu Ibrahim memanggil anak lelakinya
Wahai Ibrahim, datanglah!”

Mendengar panggilan dari sang ibu dia segera bangkit dari tengah-tengah kumpulan manusia dan menjawab,
Aku mendengar panggilanmu wahai ibunda”.

Ummu ibrahim berkata
Wahai anakku, relakah engkau menikahi gadis itu dengan mahar dikorbankannya nyawamu fi sabilillah dan tidak kembali pulang?”.

Ibrahim menjawab,
Demi Allah, aku rela dengan permintaanmu, wahai ibunda”

kemudian Ummu Ibrahim pun berdo'a
Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku telah menikahkan anakku Ibrahim dengan bedadari. Maharnya adalah nyawa anakku yang dikorbankan di jalan-Mu serta tidak akan kembali melakukan dosa. Maka terimalah persembahan dariku, wahai Yang Maha Pengasih.

Lantas Ummu Ibrahim pergi sebentar dan kembali dengan membawa harta sebanyak sepuluh ribu dinar dan berkata,
Wahai Abu Ubaid, ini adalah mahar untuk gadis (bidadari) itu, yang harus engkau gunakan untuk memenuhi perlengkapan pasukan Islam.”

Kembali Ummu ubaid pergi untuk membeli kuda terbaik dan senjata lalu ia berikan kepada anak laki-laki kesayangannya. Ketika Abdul Wahid bin Zaid Al-Bashri berangkat berperang, bergabunglah Ibrahim. Saat itu para 'ulama membaca ayat,
“Sesungguhnya Allah telah membali dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 11)

Saat akan berpisah dengan anak lelakinya, Ummu Ibrahim menyerahkan selembar kain kafan dan hanuth (ramuan obat yang digunakan untuk meluuri jenazah orang mati agar tidak rusak, berfungsi untuk memberikan semangat bagi seseorang dalam menemui kematian-pent) seraya berpesan,
Wahai anakku, jika engkau telah berhadapan dengan musuh maka pakailah kain kafan dan pergunakanlah hanuth itu. Dan jangan sekali-kali Allah melihatmu lengah dalam berjihad fi sabilillah.”

Sang ibu memeluk anaknya dan mencium dahinya, berkata lagi,
Wahai anakku, Allah tidak akan mengumpulkan kita kecuali kelak ketika kita bertemu di hari kiamat.”

Selanjutnya Abdul Wahid bertutur,
“Pada saat kami sampai negeri musuh, pasukan Islam telah dipanggil untuk bertempur. Terlihat Ibrahim berada dibarisan terdepan. Ketika peperangan berlangsung dia berhasil membunuh banyak sekali musuh., sehingga pasukan kafir mengepung dan berhasil membunuhnya pula.” Abdul Wahid melanjutkan, “Ketika kami akan kembali ke Bashrah aku berpesan kepada para sahabatku untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpa Ibrahim kepada sang ibu hingga aku bertemu langsung dengannya. Dan aku akan sampaikan keadaan Ibrahim dengan bahasa yang baik sehingga dia tidak merasa gelisah dan sedih.”

Ketika Ummu Ibrahim melihatku, dia bertanya,
Wahai Abdul Wahid apakah persembahanku diterima sehingga aku menjadi mulia ataukah ditolak sehingga terhinalah diriku?”

Aku menjawab,
Sesungguhnya persembahanmu telah diterima, Ibrahim saat ini hidup dan dilimpahi rizki yang tidak terputus.”

Mendengar jawabanku, Ummu Ibrahim segera bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur dan berkata,
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan harapanku dan telah menerima pengorbananku.”

Besok harinya datanglah Ummu Ibrahim ke Masjid milik Abdul Wahid dan memanggilnya,
Assalamu'alaika, wahai Abu Ubaid, aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu.”

Abul Wahid berkata,
Engkau selalu datang dengan membawa kabar gembira. Lalu kabar gembira apalagi yang akan engkau sampaikan?”

Ummu Ibrahim menjawab,
Semalam aku bermimpi, aku lihat anakku Ibrahim berada didalam teman yang amat indah. Di atas taman itu terdapat kubah yang berwarna hijau, aku lihat anakku Ibrahim sedang duduk di atas ranjang terbuat dari mutiara. Diatas kepala anakku diletakkan mahkota dan dia berkata kepadaku,
Wahai ibunda, ini adalah kabar gembira bagimu. Mahar yang engkau bayarkan telah diterima dan saat ini pesta pernikahan sedang dirayakan.”

Sumber:

Kisah-Kisah Pahlawan Generasi Pilihan, Oleh Hilmu bin Muhammad bin isma'il. Penerbit: Wafa Press

No comments:

Post a Comment