Saturday, October 12, 2013

Zubair Kecil di Perang Besar

Saya suka dan hobi menulis, hobi itu semakin seru jika saya bertemu orang yang memiliki hobi/bakat yang sama. Nah sobat, tulisan kisah sahabat nabi ini adalah salah satu tulisan santri saya sewaktu menjadi guru (wiyata bakti 1 tahun mengajar di pesantren) dia punya sifat aneh dan juga punya bakat menulis. Silahkan disimak...

Oleh: Abdullah Nauval Shalahuddin*
Zubair, dia adalah anak laki-laki yang berperawakan kurus pendek, umurnya kira-kira 12 tahun atau lebih sedikit. Ia tinggal bersama ibu dan saudara laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun lalu setelah sepeninggalan ayahnya, zubair semakin bersemangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibunya tidak tahu apa yang dilakukan anak sulungnya itu pada waktu keluar rumah. Diam-diam zubair sudah memiliki jabatan Jendral cilik intifadha penyerangan bagian utara. Senjata yang dipakai hanya bom botol, ketapel atau krikil atau batu.walau berbadan pendek ia sangat berani, karena itu ia dipilih sebagai jendral cilik.
Zubair di sebut juga dengan pahlawan berani mati, disebut dengan sebutan tersebut ia sering menyelamatkan temannya yang di kejar oleh tantara yahudi. Penyerangan bagian utara sudah sangat jauh dibandingkan penyerangan bagian selatan. Itu dikarenakan tak-tik jitu yang diberitahukan jendral cilik Zubair.

Pada di sebuah pertempuran antara penyerangan bagian tengah, disana tempat orang dewasa menyerang, zubair langsung menuruh teman-temannya untuk menolong penyerangan bagian tengah. Mereka semua bertarung dengan tangguh. Beberapa saat kemudian dari kalangan yahudi ada yang terkapar terkena lemparan batu di bagian kepala, pertempuran berlangsung seru hingga yahudi pun lari hingga jauh karena takut. Intifadha bersorak gembira atas kemenangan mereka yang penuh barakah.

Pada pertempuran di markaz tempur antara yahudi dan intifadha. Pertempuran sangat sengit ini dimulai dengan lemparan dari intifadha hingga brigade Al-Quds pada siang hari. Pertempuran semakin sengit, hingga ada suatu letusan senjata yang amat keras mengarah ke garis serang penyerangan bagian utara, seketika itu debu mulai menutupi pandangan.
Debu lambat-laun menghilang,dilihatlah zubair yang terkapar tak bernyawa. Kemudian jenazah zubair diantar ke rumahnya, ibu dan adiknya menyambut dengan suka dan duka, teman-temannya juga seraya bertanya, “siapa pahlawan penggantimu?”
27-november-2011
adalah seorang santri Kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al Muttaqin


No comments:

Post a Comment